Thursday, December 5, 2019

Angel Has Fallen (2019)

Film ini bercerita tentang betapa kepercayaan  tak luntur meski dibumbui dengan intrik fitnah nan kejam. Seperti film sebelumnya, film ini masih dilatarbelakangi misi agen Mike Banning, anggota squad Secret Service dalam melindungi Presiden US. 

Adegan awal film, terlihat agen Banning sedang melakukan drilling berupa bertahan dari serbuan segerombolan tim penyerang. Latihan ini berlokasi di areal kontraktor militer yang bosnya adalah teman dekat agen Banning. Sesi latihan berakhir dengan "tertembaknya" agen Banning. Selanjutnya terlihat juga, kondisi fisik sang agen yang sudah mulai "sakit-sakitan" dan direkomendasikan agar istirahat oleh dokter.

Selanjutnya, film bercerita tentang prosesi pengawalan agen Banning di White House. Tersebutlah, pada saat Presiden US melakukan press conference, seorang jurnalis mempertanyakan mengenai rencana kontrak pelatihan militer dengan kontraktor swasta. Presiden Trumbull berang, merasa ada stafnya yang bocorin rahasia negara kepada media. Dia marah dan memutuskan mau rehat dan pergi memancing.

Nah, pada saat memancing ikan di danau yang hampir beku, agen Banning  dipromosikan sebagai Direktur Secret Service oleh Presiden Trumbull. Kondisi agen Banning yang kurang fit juga dilihat oleh sang Presiden, dan memerintahkan agar rehat sejenak.

Tak diduga, pada saat beranjak meninggalkannya pos pengawalannya, terlihat sejumlah benda berwarna hitam di angkasa, terbang menuju area pemancingan sang Presiden. Benda tersebut ternyata adalah drone yang berkemampuan sebagai senjata mematikan. 

Agen Banning panik. Demikian juga dengan tim pengawal presiden. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Drone-drone tersebut keburu menyerang dan meledakkan seluruh tim pengawal Presiden. Perahu yang ditumpangi Presiden juga tak luput dari serangan drone. Agen Banning berhasil menyelamatkan Presiden, meski harus menyelam di dinginnya air danau.

Pasca penyerangan oleh drone, Presiden Trumbull dan agen Banning dilarikan ke rumah sakit. Kondisi Presiden cukup parah dan mengalami koma. Sedangkan agen Banning menderita luka yang tak seberapa parah dibanding luka sang presiden.

Penyerangan kepada Presiden dan terbunuhnya seluruh rekan kerja agen Banning, menjadi risiko yang ditimpakan kesalahan kepadanya. Apalagi di lokasi kejadian, ditemukan sejumlah bukti fisik yang mengarah kepada keterlibatan agen Banning. Bahkan FBI menemukan ada uang  10 juta USD dalam rekening milik Banning di luar negeri.

Agen Banning pun didakwa bersalah oleh FBI. Dalam kondisi fisik yang masih lemah, Banning di bawa dari rumah sakit menuju tempat penahanan. Tetapi dalam perjalanan, mobil tahanan yang ditumpanginya beserta mobil pengawal, di serang oleh orang-orang bersenjata. Agen Banning pun "diculik" oleh orang tak dikenal ini.

Bukan Banning namanya jika hanya diam dan menyerah kepada nasib. Banning pun melakukan perlawanan, hingga mobil yang menculiknya menabrak pohon. Seluruh anggota tim penculikpun dibuatnya tewas. Alangkah kagetnya agen Banning yang mengenali salah seorang penculiknya adalah orang yang pernah latihan bersamanya di areal kontraktor militer milik sahabatnya.

Perburuan kepada Agen Banning pun gencar dilakukan. Tuduhannya adalah bersekongkol dengan Rusia untuk membunuh Presiden. Banning pun lari ketempat persembunyian ayahnya di hutan Virginia. Sang Ayah rupanya mantan Ranger dan veteran perang Vietnam.

Ternyata keberadaan Agen Banning berhasil diendus oleh perusahaan kontraktor militer swasta. Ditengah malam buta, sejumlah orang bersenjata menyerang tempat persembunyian Agen Banning dan ayahnya. Lagi-lagi ada kejutan yang sudah dipersiapkan oleh sang ayah berupa jebakan bom. Akhirnya seluruh tim penyerang berhasil dilumpuhkan oleh duo anak dan ayah ini.

Pasca penyerangan, Banning dan sang Ayah menuju kota. Misinya adalah membersihkan namanya dari fitnah. Sementara kondisi sang Presiden tersadar dari koma. Banning pun menuju rumah sakit tempat Presiden Trumbull dirawat. Usaha Banning menjumpai Presiden berbuah manis. Sang Presiden tetap percaya kepada kesetiaan Agen Banning.

Pejabat Presiden yaitu Wapres, ternyata otak dibalik semua skenario dibantu oleh sahabat Banning sang empunya perusahaan kontraktor militer. Perintah pun diberikan untuk membunuh Presiden US.

Agen Banning yang telah mendapatkan kepercayaan sang Presiden, kembali mengatur strategi. Usahanya untuk mengungsikan Presiden dari rumah sakit tak berjalan mulus. Serangan demi serangan datang dari tim kontraktor swasta, bahkan berhasil meledakkan sebagian gedung rumah sakit.

Istri dan anak Agen Banning pun ikut diincar oleh orang suruhan kontraktor militer. Berkat Ayahnya yang tiba-tiba muncul, istri dan anaknya pun terselamatkan.

Presiden Trumbull hanya berhasil diungsikan di gedung lain disekitar rumah sakit. Adu taktik dan strategi pun silih berganti antara Banning dan kelompok penyerang. Tetapi kepiawaian Agen Banning tidak diragukan lagi. Hingga akhirnya, seluruh kelompok penyerang berhasil dilumpuhkan, termasuk sahabatnya yang berkhianat.

Diakhir film, sang Presiden menolak pengunduran diri Agen Banning, dan tetap menunjuknya sebagai Direktur Secret Service yang baru. Nasib sang Wapres pun berakhir dengan tangan terborgol dan dibawa dengan mobil tahanan.

Bagi yang belum nonton dan penasaran, silahkan saksikan sendiri. Film ini cukup seru, apalagi dipadukan dengan pemanfaatan teknologi mutakhir seperti pesawat tanpa awak, dan IT yang super canggih. Selain itu kita bisa belajar betapa kepercayaan dan kesetiaan itu sangat mahal harganya. 


Sunday, December 1, 2019

Rambo Last Blood (2019)

Kemarin baru sempat nonton film lawas yang dirilis lagi tahun 2019. Rambo Last Blood. Si John Rambo udah tua nih ceritanya. Tinggal di sekitar wilayah Bowie, Arizona. Ini daerah, pas film Rambo dulu yang dia jalan kaki pada bagian akhirnya (kalo tak salah First Blood) . Nah, di film ini, setting rumah tinggal John Rambo, di deskripsikan sebagai wilayah pertanian dan peternakan.


Cerita film diawali dengan adegan penyelamatan oleh John Rambo kepada seorang cewek yang terjebak banjir bandang. Trus dilanjutkan perkenalan dengan ponakan si Rambo, bernama Gabriela. Gadis remaja yang lagi galau, ingin menjumpai ayah kandungnya yang berada di Mexico.

Sang Paman, John Rambo melarang. Alasannya bahwa daerah yang dituju sangat berbahaya. Trus si Ayah Gabriela tu orangnya berengsek, nggak perlu dicari-cari gitu...

Tapi, si cantik Gabriela bandel. Nekat seorang diri ke Mexico menjumpai ayahnya, dengan bantuan seorang teman. Apa yang dikuatirkan sang Paman jadi kenyataan. Sang Ayah cuek dan mengusir Gabriela. 

Gabriela pun sedih dan mau balik pulang  ke Bowie, Arizona. Tetapi dilarang oleh temannya yang di Mexico (ada niat jahat rupanya). Gabriela diajak dugem. Di club tersebut, Gabriela "dijual" ke mafia obat bius dan perdagangan perempuan. Gabriela disekap kawanan mafia untuk diperkerjakan sebagai budak nafsu.

John Rambo pun berangkat ke Mexico untuk misi penyelamatan. Tetapi keburu ketauan oleh kawanan mafia. Rambo pun babak belur, sampai diberi tanda mata sayatan pisau dipipinya oleh bos mafia. Rambo yang sekarat diselamatkan oleh sorang jurnalis lokal yang adiknya juga korban sang mafia.

Singkat cerita, setelah John Rambo pulih, dia ngamuk dan berhasil menemukan Gabriela disalah satu tempat prostitusi. Tetapi kondisinya sangat parah. Penuh luka fisik dan suntikan obat bius. Diperjalanan pulang, Gabriela pun menghembuskan nafas terakhir.

John Rambopun sangat marah. Dia merencanakan pembalasan dendam. Rambopun ngamuk di rumah salah satu rumah bos mafia. Sanking dendamnya, kepala bos mafia tersebut dipenggalnya dan dibuang di jalanan.

Ini merupakan bagian klimaks film. John Rambo bersiap menanti serangan balik mafia di areal rumahnya. Beragam persiapan dilakukan. Berbagai jebakan sudah menanti tim penyerang. Akhirnya terjadilah pertempuran di permukiman John Rambo. Satu persatu anggota mafia berhasil dilumpuhkan. Termasuk si bos mafia, yang terkena anak panah dan besetan belati si Rambo.

Film ini lumayan berdarah-darah. Jadi buat kamu yang belum nonton, jangan kaget. Trus menurut saya,  anak-anak juga sangat dilarang untuk menonton film ini. Kecuali kalau udah di potong bagian berdarahnya.

Meski judulnya Rambo Last Blood, ini masih menyisakan tanda tanya apa ini Last Blood beneran. Soalnya pada bagian akhir film, si John Rambo yang terluka, duduk di kursi goyang di depan rumah. Nggak dikasih tau, apa mati atau enggak. Kalau anda penasaran, nonton aja filmnya Rambo Last Blood.



Friday, June 15, 2018

Maaf Ya Nak

Maaf nak, malam ini tidak ada pawai takbir lewat depan rumah kita. Tahun ini berbeda dengan tahun kemarin. Tidak ada kabar mengapa.

Mungkin para pengurus negeri, taat perintah penguasa di Jakarta. Menurut mereka, takbir tidak perlu keliling. Cukup ditempat masing-masing.

Jadi, maaf ya nak. Malam ini tidak bisa menyaksikan mobil hias, lampu warna-warni dan "pengeras" suara takbir.

Mungkin anggaran takbir keliling terkuras untuk tunjangan hari raya para pengurus negeri. Mungkin anggarannya luput dari pantauan anggota legislatif.

Tapi, makin banyak kemungkinan dan dugaan, kita semakin larut kepada buruk sangka.

Maaf nak, kalau malam ini hanya riuh suara petasan yang terdengar. Mungkin mereka bosan. Malam takbiran tidak semeriah tahun lalu. Mungkin mereka sekedar mencari perhatian.

Sekali lagi maaf ya nak. Kita takbir dirumah dan mesjid kampung kita saja. Asma Allah bisa kita agungkan meski tidak berwujud pawai takbir. Jangan kecewa ya nak. Mungkin tahun depan bakal ada pawai takbir seperti yang sudah-sudah.

Malam Takbiran 1439 H.








Tuesday, May 15, 2018

Es Kepal, "Inovasi" Minimalis Hasil Maksimalis

Bagaimana menikmati es serut atau Milo coklat dingin dengan cara yang beda? Salah satunya, yang tengah ngetren saat ini adalah Es Kepal Milo.

Kudapan jaman now ini, tergolong sederhana. Sedikit sentuhan inovasi minimalis, es serut yang dibubuhi "saus coklat" plus taburan bubuk Milo ini, ready to serve dan dibandrol delapan ribu rupiah.

Bila ingin menambahkan topping, sah-sah aja. Pakai taburan kacang, choco chip, hingga keju cheddar parut, juga tak masalah. Tentu ada harga, ada rasa pula.

Siapapun "penemu" pertama es kepal ini, layak disebut "hebat". Lompatan penyajian es serut atau Milo dingin yang biasa-biasa aja, menjadi es kepal Milo, patut diacungkan dua jempol.

Paling tidak, es kepal Milo saat ini banyak dijajakan dan mudah ditemui hampir disemua sudut kota. Es kepal ini telah menginspirasi banyak orang untuk berusaha. Mendatangkan peluang rezeki bagi banyak umat. Bukan hanya pemilik produk Milo saja, kini es kepal coklat bubuk merek lain seperti  Ovaltine juga dijumpai. Mungkin nanti bakal tumbuh juga es kepal merek minuman coklat lainnya.

Pelajaran yang dipetik dari es kepal Milo ini adalah, dengan sedikit inovasi dari hal yang biasa-biasa aja menjadi suatu produk yang dikemas secara berbeda, akan mendatangkan peluang dan nilai yang berbeda.

Bagaimana, penasaran dengan es kepal Milo? Sebagai oleh-oleh ikut dipajang es kepal Milo yang berhasil dibeli hari ini. Es kepal oh es kepal...



Monday, April 16, 2018

Menanti Kepastian Hukum, Videotron Yang Tak Asyik Ditonton


Seorang pemikir hukum lawas asal negeri “Inglitir” alias Inggris, bernama Jeremy Bentham pernah mengatakan “The grand utility of the law is certainty”. Terjemahan bebasnya, kurang lebih seperti ini: “kegunaan terbesar dari hukum adalah kepastian”.

Lantas, apa kaitannya dengan judul “videotron yang tak asyik ditonton” pada bagian bawah judul di atas?. Secara teori hukum “kepastian hukum” Jeremy Bentham, lahir jauh di abad kedelapanbelas. Sedangkan kasus videotron Aceh Tamiang, muncul di era milineal. Jaman now serba android.

Keterhubungan secara langsung memang tidak. Tetapi, dari optik penegakan hukum, bisa dipastikan sangatlah relevan untuk didiskusikan. Masih ingat tulisan dengan tema videotron ini sekitar 2 tahun lalu. Ketika itu, kasus ini masih belum menyerempet ke ranah justicia alias penegakan hukum. Akan tetapi, setelah lebih kurang 2 tahun bergulir, mengapa kasus videotron Aceh Tamiang ini seakan tiada bertepian. Istilahnya mengapa tiada berkepastian?.

Kepastian dalam arti, bilamana tidak ada unsur melawan hukum didalamnya, dapat memberi kepastian kepada pihak-pihak yang diduga melawan hukum, menjadi seorang yang bersih dari anasir pidana. Atau jika terbukti melakukan upaya memperkaya diri sendiri atau orang lain, mbok ya segera diperiksa dan dibuktikan secara materiil dan formil. Seperti ungkapan Bentham diatas, hukum itu gunanya menciptakan kepastian.

Jika hukum ditegakkan, maka rakyat akan percaya kepada Pemerintah, khususnya aparat penegak hukum. Jika rakyat tidak percaya kepada hukum, bisa gawat. Karena rakyat akan “disorientasi” alias kehilangan arah. Gejalanya mulai tampak dengan banyaknya kasus eigenrechting atau main hakim sendiri. Ujungnya nanti rakyak akan melakukan pembangkangan (disobedience). Jika terus demikian, maka perpecahan (disintegrasi) bangsa ini bakal terjadi.

Melawan Lupa
Pengadaan "si kembar videotron" ini terjadi di tahun 2015 lalu. Satuan kerja perangkat daerah yang empunya proyek adalah Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Kabupaten Aceh Tamiang. Dana pengadaannya berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Kabupaten (APBK) Aceh Tamiang tahun anggaran 2015.


Pagu yang disediakan awalnya adalah Rp. 1,2 milyar. Setelah dilelang, pemenangnya adalah CV Artha Kharisma Perkasa, dan harga dua unit videotron plus pajak menjadi Rp. 1.197.570.000. CV Artha Kharisma Perkasa, adalah perusahaan swasta yang beralamat di Jl. T. Hamzah Bendahara No. 89, Kuta Alam, Banda Aceh. Sebagai direktur perusahaan adalah T.M. Ikhsan Saladin, ST.

Aparat penegak hukum seingat penulis juga sudah menghadirkan ahli untuk membuktikan bahwa dugaan telah terjadinya unsur melawan hukum adalah benar adanya. Ahlipun sudah datang ke Tamiang dan memeriksa isi dalam videotron yang disangkakan. 

Salah satu temuan yang menggelikan adalah dalam “perut? videotron ditemukan seperangkat laptop sebagai wahana alias mesin pemutar objek yang ditayangkan di layar videotron.

Jangan tertawa ya.. apalagi laptop tersebut kepanasan, lawbat bahkan raib digondol maling. Hebat sangat yang mendesain videotron di Tamiang ini. Apa memang demikian, atau hanya sekedar akal-akalan untuk meraih fulus dari proyek uang negara ini. Tidak penting ada manfaatnya bagi rakyat, asal bisa memuaskan dahaga birahi uang korupsi.


Lantas jangan dianggap bahwa 2 tahun kita akan lupa dengan nasib videotron ini. Publik pasti akan bertanya-tanya..ada apa dengan videotron ini? Mengapa hukum selalu tajam kebawah tapi tumpul ke atas? Iyalah..apalagi mendengar selentingan, ada terlibat kerabat dekat orang nomor satu di Aceh Tamiang saat ini. Katanya sih seorang AESEN dan juga ponakannya langsung.

 Apa gara-gara hal ini aparat penegak hukum “gentar” mengusut tuntas kasus ini. Semoga tidak ya. Kami rakyat mendukung penegakan hukum yang menjamin kemanfaatan, kepastian dan keadilan di Bumi Tamiang.

Kondisi sang videotron yang dibicarakanpun masih lebih banyak matinya, ketimbang hidupnya. Proyek uang negara hampir 1,2 milyar rupiah inipun, seakan tiada guna. Siang terjemur matahari, malam terkena embun. Lambat laun bakal jadi benda mati. Saksi bisu keserakahan dan ketamakan para pencoleng uang rakyat. Semoga di Aceh Tamiang tiada lagi kasus serupa. Cukup sudah.


Sebagai penutup, tiada salah jika kita berkenalan dengan sosok Jeremy Bentham. Seorang Sarjana Hukum yang telah belajar huruf pada saat balita dan belum pandai bicara. Umur 4 tahun, dia sudah belajar bahasa Yunani dan Latin. Pada umur 12 tahun, yakni tahun 1760  Bentham sudah kuliah di Oxford University, dan meraih gelar Sarjana Hukum diusia 15 tahun. Bentham dikenal sebagai penganut paham Positivisme Hukum. Ungkapannya yang terkenal yaitu "the greatest happiness of the greatest number". Mazhab hukum ala Bentham ini dinamakan Mazhab "utilitarianisme". 















Tuesday, October 31, 2017

Bersyukur

Hari ini aku dapat pelajaran berharga. Yakni bersyukur. Ya, bersyukur atas rahmat yang telah Allah berikan padaku. Kepada keluarga, anak dan isteriku.

Tadi aku mencuci mobil di doorsmeer yang ada dikota. Sambil menunggu, aku berbincang dengan seorang pekerja pencuci mobil.

Upah mereka dibayar Rp.  12.000 permobil. Rata-rata, satu hari bisa mencuci 3 sampai 4 mobil. Artinya, sehari hanya bisa bawa pulang uang Rp. 36.000 hingga Rp. 48.000.

Ya Allah, di era serba mahal seperti sekarang ini, apa cukup uang segitu? Padahal dia harus bayar uang kontrak rumah dan menghidupi 2 anaknya.

Bulan Juni lalu, dia berhenti kerja dari salah satu perusahaan swasta. Diberhentikan lebih tepatnya. Gara-gara menerima "ucapan terimakasih" dari klien yang kelar urusan kreditnya. Tapi kemudian, cicilan kredit nunggak, dan hasil audit internal menemukan ada praktek yang tak diperbolehkan. Alhasil, kontraknya diakhiri.

Guna menyambung hidup, sebut saja namanya "gun" bekerja di tempat pencucian mobil ini. "Lumayan pak, daripada mengganggur di rumah. Bisa nambah-nambah uang belanja anak-istri, sambil menunggu peluang kerja yang lain".

Aku tertegun. Ya Allah, di atas langit ada langit. Di bawah langit ada bumi. Terimakasih ya Allah, karena hari ini aku diingatkan kembali untuk bersyukur atas nikmat dan karunia-Mu. Aku bersyukur masih diberikan kesempatan untuk menikmati rezeki yang diberikan.  Terimakasih ya Rabb.

Aku harus belajar dari "gun" si pencuci mobil. Rezeki Allah yang mengatur, sepanjang manusia mau berdoa dan berusaha. Tak masalah pekerjaan itu apa. Sepanjang halal dan tidak merugikan orang lain. Emang jika kita susah, orang lain yang akan peduli? Memangnya jika anak kita perlu susu, akan selalu datang orang lain yang akan antar susu ke rumah? Tentu tidak....

Jangan menggantungkan hidup kita kepada orang lain. Gantungkanlah hidup pada Allah. Berharaplah akan pertolongan Allah. Berdoa dan berusaha kuncinya. Semoga aku bisa selalu masuk kedalam golongan orang-orang yang bersyukur.

Karang Baru, 31 Oktober 2017




Thursday, February 23, 2017

Matematika Pilkada

Ajang pemilihan kepala daerah (pilkada)  baru saja digelar pertanggal 15 Februari lalu. Perhelatan 5 tahunan ini menyisakan kekecewaan bagi paslon yang belum berhasil. Sedangkan bagi pemenang, dipastikan menyambutnya dengan suka cita, riang gembira.

Ada fenomena menarik terkait pilkada tempo hari. Ternyata, kekuasaan, tim pemenangan, program kerakyatan, mesin partai, polling yang gemilang,  kampanye tumpah ruah, hingga uang, tidak menjadi jaminan memenangkan pilkada.

Demikian juga dengan Aceh Tamiang. Kabupaten yang baru berusia 15 tahun, telah pula memilih pasangan calon yang akan memimpin selama 5 tahun kedepan. Jika tidak ada aral melintang, pasangan Mursil-Tengku Insyafuddin,  bakal menduduki jabatan bupati-wakil bupati terpilih.

Logika Matematika
Ada logika matematika pada pilkada kali ini. Operasi penambahan, perkalian,  pengurangan, hingga pembagian, muncul kepermukaan, sebagai fenomena yang menarik diperbincangkan.

Fenomena pertama adalah penambahan. Urusan tambah-tambah ini menjadi suatu yang krusial. Jika penambahan suara terhadap paslon meningkat, tentu ini yang didambakan. Tetapi, jika yang bertambah adalah biaya operasional,  proposal permintaan beragam kegiatan, atau bertambahnya dukungan ke kubu lawan, tentu ini yang dihindari.

Pada pilkada Aceh Tamiang,  yang tadinya paslon berjumlah 4 pasang,  bertambah menjadi 5 pasang.  Hal terakhir adalah, bertambahnya paslon Lukman-Manaf seiring diterimanya permohonan mereka di Mahkamah Agung, karena sebelumnya dinyatakan Tidak Memenuhi Syarat sebagai paslon.

Fenomena kedua adalah terkait kali-kali. Setiap paslon tentu punya kiat dan strategi dalam kali-kali memenangkan pilkada. Ada yang memanfaatkan kekuasaan dengan menggerakkan struktur pemerintahan hingga ke tingkat kampung. Ada yang ber-kali-kali mengadakan kenduri ditiap kecamatan. Ada juga yang ber-kali-kali mengatakan akan segera mendatangkan dana dari pusat,  5 hari setelah memenangkan pilkada Aceh Tamiang.

Fenomena selanjutnya adalah pengurangan. Setiap paslon pasti tidak mendambakan perolehan suara mereka berkurang dan berakhir fatal dengan kekalahan. Pengurangan suara pasti dihindari. Tetapi pengurangan anggaran, jika tidak, mengapa tak berhemat,  meski sadar taruhannya adalah perolehan suara dihari pemilihan.

Strategi pengurangan anggaran ini, yang pada akhirnya telah mengantarkan salah satu paslon, kehilangan kemenangannya. Pihak yang terlanjur dijanjikan, kecewa dan berbalik arah dengan mendukung paslon yang "menambahkan" anggaran untuk pemenangannya.

Fenomena "pembagian" adalah yang paling menarik. Pembagian disini bisa bermakna macam-macam. Mulai pembagian barang tertentu, hingga pembagian sejumlah uang.

Meski politik bagi-bagi uang dilarang oleh undang-undang, tetapi prakteknya masih ditemukan pada pilkada Aceh Tamiang. Terbukti, ada yang tertangkap dan laporan pandangan mata dari masyarakat, penerima pembagian uang.

Politik pembagian ini pun ada juga dibungkus dengan samaran "saksi di luar TPS". Caranya adalah, dengan merekrut sejumlah orang pada TPS yang bersangkutan, untuk dijadikan saksi paslon, dan tentunya diberikan sejumlah identitas seperti kartu pengenal, SK dan tentu saja uang.

Terbukti, strategi "operasi pembagian" masih menjadi senjata ampuh meraup suara. Terbukti juga, paslon lain yang gagal menjalankan skenario bagi-bagi ini, gagal memenangkan pilkada kali ini.

Fenomena pembagian ini tidak akan berhenti begitu pilkada usai. Malah akan terus berlanjut begitu paslon menjadi bupati-wakil bupati definitif. Sejumlah donatur hingga tim sukses akan menuntut juga "pembagian rezeki" atas jasa yang sudah ditanam.

Perlu diingat juga,  bahwa dana operasional untuk operasi pembagian bukan "kotak amal alias sedekah jariyah". Tidak ada makan siang yang gratis. Artinya, cost yang sudah dikeluarkan,  harus setimpal dengan income yang akan dituai. Inilah alasan, bahwa politik bagi-bagi uang memang dilarang.

Cerita fenomena matematika pada pilkada memang tak ada habisnya. Apa yang telah terjadi, dapat dijadikan pembelajaran, bahwa fenomena matematika memang betul adanya. Jika siap "ber-mate-matika", maka silahkan ikut pilkada.