Thursday, December 5, 2019
Angel Has Fallen (2019)
Sunday, December 1, 2019
Rambo Last Blood (2019)
Friday, June 15, 2018
Maaf Ya Nak
Mungkin para pengurus negeri, taat perintah penguasa di Jakarta. Menurut mereka, takbir tidak perlu keliling. Cukup ditempat masing-masing.
Jadi, maaf ya nak. Malam ini tidak bisa menyaksikan mobil hias, lampu warna-warni dan "pengeras" suara takbir.
Mungkin anggaran takbir keliling terkuras untuk tunjangan hari raya para pengurus negeri. Mungkin anggarannya luput dari pantauan anggota legislatif.
Tapi, makin banyak kemungkinan dan dugaan, kita semakin larut kepada buruk sangka.
Maaf nak, kalau malam ini hanya riuh suara petasan yang terdengar. Mungkin mereka bosan. Malam takbiran tidak semeriah tahun lalu. Mungkin mereka sekedar mencari perhatian.
Sekali lagi maaf ya nak. Kita takbir dirumah dan mesjid kampung kita saja. Asma Allah bisa kita agungkan meski tidak berwujud pawai takbir. Jangan kecewa ya nak. Mungkin tahun depan bakal ada pawai takbir seperti yang sudah-sudah.
Malam Takbiran 1439 H.
Tuesday, May 15, 2018
Es Kepal, "Inovasi" Minimalis Hasil Maksimalis
Kudapan jaman now ini, tergolong sederhana. Sedikit sentuhan inovasi minimalis, es serut yang dibubuhi "saus coklat" plus taburan bubuk Milo ini, ready to serve dan dibandrol delapan ribu rupiah.
Bila ingin menambahkan topping, sah-sah aja. Pakai taburan kacang, choco chip, hingga keju cheddar parut, juga tak masalah. Tentu ada harga, ada rasa pula.
Siapapun "penemu" pertama es kepal ini, layak disebut "hebat". Lompatan penyajian es serut atau Milo dingin yang biasa-biasa aja, menjadi es kepal Milo, patut diacungkan dua jempol.
Paling tidak, es kepal Milo saat ini banyak dijajakan dan mudah ditemui hampir disemua sudut kota. Es kepal ini telah menginspirasi banyak orang untuk berusaha. Mendatangkan peluang rezeki bagi banyak umat. Bukan hanya pemilik produk Milo saja, kini es kepal coklat bubuk merek lain seperti Ovaltine juga dijumpai. Mungkin nanti bakal tumbuh juga es kepal merek minuman coklat lainnya.
Pelajaran yang dipetik dari es kepal Milo ini adalah, dengan sedikit inovasi dari hal yang biasa-biasa aja menjadi suatu produk yang dikemas secara berbeda, akan mendatangkan peluang dan nilai yang berbeda.
Bagaimana, penasaran dengan es kepal Milo? Sebagai oleh-oleh ikut dipajang es kepal Milo yang berhasil dibeli hari ini. Es kepal oh es kepal...
Monday, April 16, 2018
Menanti Kepastian Hukum, Videotron Yang Tak Asyik Ditonton
Seorang pemikir hukum lawas asal negeri “Inglitir” alias Inggris, bernama Jeremy Bentham pernah mengatakan “The grand utility of the law is certainty”. Terjemahan bebasnya, kurang lebih seperti ini: “kegunaan terbesar dari hukum adalah kepastian”.
Jika hukum ditegakkan, maka rakyat akan percaya kepada Pemerintah, khususnya aparat penegak hukum. Jika rakyat tidak percaya kepada hukum, bisa gawat. Karena rakyat akan “disorientasi” alias kehilangan arah. Gejalanya mulai tampak dengan banyaknya kasus eigenrechting atau main hakim sendiri. Ujungnya nanti rakyak akan melakukan pembangkangan (disobedience). Jika terus demikian, maka perpecahan (disintegrasi) bangsa ini bakal terjadi.
Melawan Lupa
Pengadaan "si kembar videotron" ini terjadi di tahun 2015 lalu. Satuan kerja perangkat daerah yang empunya proyek adalah Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Kabupaten Aceh Tamiang. Dana pengadaannya berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Kabupaten (APBK) Aceh Tamiang tahun anggaran 2015.
Jangan tertawa ya.. apalagi laptop tersebut kepanasan, lawbat bahkan raib digondol maling. Hebat sangat yang mendesain videotron di Tamiang ini. Apa memang demikian, atau hanya sekedar akal-akalan untuk meraih fulus dari proyek uang negara ini. Tidak penting ada manfaatnya bagi rakyat, asal bisa memuaskan dahaga birahi uang korupsi.
Apa gara-gara hal ini aparat penegak hukum “gentar” mengusut tuntas kasus ini. Semoga tidak ya. Kami rakyat mendukung penegakan hukum yang menjamin kemanfaatan, kepastian dan keadilan di Bumi Tamiang.
Kondisi sang videotron yang dibicarakanpun masih lebih banyak matinya, ketimbang hidupnya. Proyek uang negara hampir 1,2 milyar rupiah inipun, seakan tiada guna. Siang terjemur matahari, malam terkena embun. Lambat laun bakal jadi benda mati. Saksi bisu keserakahan dan ketamakan para pencoleng uang rakyat. Semoga di Aceh Tamiang tiada lagi kasus serupa. Cukup sudah.
Tuesday, October 31, 2017
Bersyukur
Tadi aku mencuci mobil di doorsmeer yang ada dikota. Sambil menunggu, aku berbincang dengan seorang pekerja pencuci mobil.
Upah mereka dibayar Rp. 12.000 permobil. Rata-rata, satu hari bisa mencuci 3 sampai 4 mobil. Artinya, sehari hanya bisa bawa pulang uang Rp. 36.000 hingga Rp. 48.000.
Ya Allah, di era serba mahal seperti sekarang ini, apa cukup uang segitu? Padahal dia harus bayar uang kontrak rumah dan menghidupi 2 anaknya.
Bulan Juni lalu, dia berhenti kerja dari salah satu perusahaan swasta. Diberhentikan lebih tepatnya. Gara-gara menerima "ucapan terimakasih" dari klien yang kelar urusan kreditnya. Tapi kemudian, cicilan kredit nunggak, dan hasil audit internal menemukan ada praktek yang tak diperbolehkan. Alhasil, kontraknya diakhiri.
Guna menyambung hidup, sebut saja namanya "gun" bekerja di tempat pencucian mobil ini. "Lumayan pak, daripada mengganggur di rumah. Bisa nambah-nambah uang belanja anak-istri, sambil menunggu peluang kerja yang lain".
Aku tertegun. Ya Allah, di atas langit ada langit. Di bawah langit ada bumi. Terimakasih ya Allah, karena hari ini aku diingatkan kembali untuk bersyukur atas nikmat dan karunia-Mu. Aku bersyukur masih diberikan kesempatan untuk menikmati rezeki yang diberikan. Terimakasih ya Rabb.
Aku harus belajar dari "gun" si pencuci mobil. Rezeki Allah yang mengatur, sepanjang manusia mau berdoa dan berusaha. Tak masalah pekerjaan itu apa. Sepanjang halal dan tidak merugikan orang lain. Emang jika kita susah, orang lain yang akan peduli? Memangnya jika anak kita perlu susu, akan selalu datang orang lain yang akan antar susu ke rumah? Tentu tidak....
Jangan menggantungkan hidup kita kepada orang lain. Gantungkanlah hidup pada Allah. Berharaplah akan pertolongan Allah. Berdoa dan berusaha kuncinya. Semoga aku bisa selalu masuk kedalam golongan orang-orang yang bersyukur.
Karang Baru, 31 Oktober 2017
Thursday, February 23, 2017
Matematika Pilkada
Ajang pemilihan kepala daerah (pilkada) baru saja digelar pertanggal 15 Februari lalu. Perhelatan 5 tahunan ini menyisakan kekecewaan bagi paslon yang belum berhasil. Sedangkan bagi pemenang, dipastikan menyambutnya dengan suka cita, riang gembira.
Ada fenomena menarik terkait pilkada tempo hari. Ternyata, kekuasaan, tim pemenangan, program kerakyatan, mesin partai, polling yang gemilang, kampanye tumpah ruah, hingga uang, tidak menjadi jaminan memenangkan pilkada.
Demikian juga dengan Aceh Tamiang. Kabupaten yang baru berusia 15 tahun, telah pula memilih pasangan calon yang akan memimpin selama 5 tahun kedepan. Jika tidak ada aral melintang, pasangan Mursil-Tengku Insyafuddin, bakal menduduki jabatan bupati-wakil bupati terpilih.
Logika Matematika
Ada logika matematika pada pilkada kali ini. Operasi penambahan, perkalian, pengurangan, hingga pembagian, muncul kepermukaan, sebagai fenomena yang menarik diperbincangkan.
Fenomena pertama adalah penambahan. Urusan tambah-tambah ini menjadi suatu yang krusial. Jika penambahan suara terhadap paslon meningkat, tentu ini yang didambakan. Tetapi, jika yang bertambah adalah biaya operasional, proposal permintaan beragam kegiatan, atau bertambahnya dukungan ke kubu lawan, tentu ini yang dihindari.
Pada pilkada Aceh Tamiang, yang tadinya paslon berjumlah 4 pasang, bertambah menjadi 5 pasang. Hal terakhir adalah, bertambahnya paslon Lukman-Manaf seiring diterimanya permohonan mereka di Mahkamah Agung, karena sebelumnya dinyatakan Tidak Memenuhi Syarat sebagai paslon.
Fenomena kedua adalah terkait kali-kali. Setiap paslon tentu punya kiat dan strategi dalam kali-kali memenangkan pilkada. Ada yang memanfaatkan kekuasaan dengan menggerakkan struktur pemerintahan hingga ke tingkat kampung. Ada yang ber-kali-kali mengadakan kenduri ditiap kecamatan. Ada juga yang ber-kali-kali mengatakan akan segera mendatangkan dana dari pusat, 5 hari setelah memenangkan pilkada Aceh Tamiang.
Fenomena selanjutnya adalah pengurangan. Setiap paslon pasti tidak mendambakan perolehan suara mereka berkurang dan berakhir fatal dengan kekalahan. Pengurangan suara pasti dihindari. Tetapi pengurangan anggaran, jika tidak, mengapa tak berhemat, meski sadar taruhannya adalah perolehan suara dihari pemilihan.
Strategi pengurangan anggaran ini, yang pada akhirnya telah mengantarkan salah satu paslon, kehilangan kemenangannya. Pihak yang terlanjur dijanjikan, kecewa dan berbalik arah dengan mendukung paslon yang "menambahkan" anggaran untuk pemenangannya.
Fenomena "pembagian" adalah yang paling menarik. Pembagian disini bisa bermakna macam-macam. Mulai pembagian barang tertentu, hingga pembagian sejumlah uang.
Meski politik bagi-bagi uang dilarang oleh undang-undang, tetapi prakteknya masih ditemukan pada pilkada Aceh Tamiang. Terbukti, ada yang tertangkap dan laporan pandangan mata dari masyarakat, penerima pembagian uang.
Politik pembagian ini pun ada juga dibungkus dengan samaran "saksi di luar TPS". Caranya adalah, dengan merekrut sejumlah orang pada TPS yang bersangkutan, untuk dijadikan saksi paslon, dan tentunya diberikan sejumlah identitas seperti kartu pengenal, SK dan tentu saja uang.
Terbukti, strategi "operasi pembagian" masih menjadi senjata ampuh meraup suara. Terbukti juga, paslon lain yang gagal menjalankan skenario bagi-bagi ini, gagal memenangkan pilkada kali ini.
Fenomena pembagian ini tidak akan berhenti begitu pilkada usai. Malah akan terus berlanjut begitu paslon menjadi bupati-wakil bupati definitif. Sejumlah donatur hingga tim sukses akan menuntut juga "pembagian rezeki" atas jasa yang sudah ditanam.
Perlu diingat juga, bahwa dana operasional untuk operasi pembagian bukan "kotak amal alias sedekah jariyah". Tidak ada makan siang yang gratis. Artinya, cost yang sudah dikeluarkan, harus setimpal dengan income yang akan dituai. Inilah alasan, bahwa politik bagi-bagi uang memang dilarang.
Cerita fenomena matematika pada pilkada memang tak ada habisnya. Apa yang telah terjadi, dapat dijadikan pembelajaran, bahwa fenomena matematika memang betul adanya. Jika siap "ber-mate-matika", maka silahkan ikut pilkada.
